Pada suatu hari, di sebuah padang rumput di Afrika ada seekor singa yang sedang menyantap makanan hasil buruannya. Tiba-tiba ada seekor burung elang terbang rendah dan langsung menyambar makanan milik si singa. Melihat makanannya dibawa pergi burung elang, si singa pun menjadi sangat marah. Kemudian si singa pun memerintahkan seluruh binatang untuk berkumpul, dan mengadakan diskusi. Setelah berdiskusi, si singa pun menyatakan perang terhadap bangsa burung.
Binatang lain pun setuju, sebab mereka merasa telah diperlakukan sama oleh bangsa burung. Mereka juga merasakan hal yang sama, makanannya di ambil oleh burung saat mereka sedang makan.
Saat malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya. Kesempatan itu lalu digunakan oleh para singa dan anak buahnya untuk menyerang bangsa burung. Para burung yang tidak memiliki persiapan, akhirnya pun kocar-kacir melarikan diri. Beruntung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas saat malam hari, sehingga mereka semua dapat lolos dari serangan singa dan anak buahnya.
Melihat bangsa burung kalah setelah diserang kelompok singa, sang kelelawar pun merasa cemas sehingga ia segera pergi menemui sang raja hutan. Kelelawar itu berkata, bahwa dia sebenarnya termasuk bangsa tikus, walau dia memiliki sepasang sayap. Kelelawar itu pun memohon agar dia boleh bergabung dengan kelompok si singa, dan dia rela mempertaruhkan nyawanya untuk bertempur melawan para burung. Tanpa berpikir panjang, singa pun menyetujui kelelawar masuk ke dalam kelompoknya.
Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa, kembali menyerang kelompok burung dan berhasil mengusirnya. Di keesokan harinya menjelang pagi, saat kelompok Singa sedang istirahat kelompok burung tiba-tiba menyerang balik mereka dengan melempari kelompok singa dengan batu dan kacang-kacangan. Karena sedang beristirahat dan tidak ada persiapan, kali ink kelompok singa pun kalah oleh serangan bangsa burung.
Sang kelelawar pun merasa cemas dengan hal tersebut, sehingga ia berpikiran untuk kembali bergabung dengan kelompok burung. Ia kemudian menemui sang raja burung, yaitu Burung Elang. Dengan menunjukkan jefua sayapnya, kelelawar itu berkata bahwa dia sebenarnya adalah burung dah memohon agar diperbolehkan gabung dengan kelompok burung. Elang pun tanpa berpikir panjang menerima kelelawar dengan senang hati ke dalam kelompoknya.
Pertempuran pun terus berlanjut, para kera sambil menunggang gajah atau badak memegang busur dan anak panah menyerang kelompok burung. Kepala mereka dilindungi dengan topi dari tempurung kelapa agar tidak mempan saat dilempari batu oleh para burung. Setelah kelompok singa menang, kelelawar pun bolak balik berpihak kepada kelompok yang menang. Sifat pengecut dan tidak berpendirian yang dimiliki kelelawar ini, akhirnya lama kelamaan diketahui oleh kelompok singa dan kelompok burung.
Mereka sadar bahwa tidak ada gunanya saling bermusuhan dan menyerang, karena yang ada hanya luka dan tidak ada kedamaian. Kemudian mereka pun berbicara satu sama lain mengadakan diskusi. Setelah berbicara dan berdiskusi, mereka pun memutuskan untuk kembali bersahabat. Selain itu, mereka juga memutuskan untuk mengusir kelelawar dari lingkungan mereka selamanya. Kelelawar pun merasa sangat malu dengan tingkah lakunya, sehingga ia akhirnya memilih bersembunyi di dalam gua-gua yang gelap. Ia baru akan menampakkan dirinya saat malam telah tiba dengan cara keluar sembunyi-sembunyi. Dan hingga kini pun, kelelawar masih tetap keluar di malam hari dan sembunyi di tempat yang gelap saat siang hari.